(Cerpen Fantasi) ㅡ Bersyukur Sebelum Terlambat
"Mari kita putus."
Semenjak hari itu, aku sulit untuk berkonsentrasi. Aku merasa semuanya telah berubah, semangat untuk hidup seakan lenyap begitu saja.
Kata-kata terakhir darimu itu selalu terngiang di kepalaku. "Kenapa aku ditinggalkan seperti ini? Memangnya apa salahku kepadanya?"
Pikiranku benar-benar kacau, padahal hari ini adalah hari pertama ujian tengah semester.
"Ayolah fokus, Fira!" Ujarku sambil memegang kepalaku.
Bel tanda masuk berbunyi, semua siswa sudah bersiap di kelas untuk melaksanakan ujian tengah semester. Tidak lama kemudian pengawas ruangan datang dan membagikan lembar soal dan lembar jawaban.
"Soal ujiannya susah sekali, aku tidak bisa menjawabnya. Kalau nilaiku turun nanti, aku bisa mengecewakan Ibuku lagi." Ucapku dalam hati sambil membolak-balik lembar soal.
Aku mencoba berpikir dan mengingat kembali beberapa soal yang menurutku pernah dipelajari. Saat kulihat jam dinding yang berada tepat di atas papan tulis kelas menunjukkan pukul 08.54.
"Berarti, 6 menit lagi?" Gumamku bingung karena masih banyak soal yang belum terisi.
"Waktunya tinggal lima menit lagi, peserta ujian silahkan memeriksa jawabannya kembali sebelum meninggalkan ruangan." Ujar pengawas itu.
Aku benar-benar panik, alhasil aku mengisi asal-asalan di lembar jawaban.
"Waktunya habis, silahkan kepada peserta ujian untuk meninggalkan ruangan ini." Ujar pengawas itu.
Aku meninggalkan ruang kelas dengan penuh penyesalan, berbagai pertanyaan muncul di dalam benakku. Aku merasa sudah gagal dalam semua hal, ujian, Ibuku, cinta, pertemanan, dan lainnya. Aku saat ini merasa sendirian.
------
Tiba saatnya hari ini, mungkin hari yang sial bagiku karena ada pembagian nilai ujian. Nilai ujian di sekolahku tidak dibagikan satu persatu ke siswa yang bersangkutan, melainkan di pajang sesuai peringkat di papan pengumuman. Oleh karena itu, saat ini di papan pengumuman menjadi tempat yang paling ramai dikunjungi siswa.
Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa bergegas merapikan barang-barangnya dan pulang. Karena papan pengumuman sudah sepi, aku mampir untuk melihat sebentar. Benar saja, nilaiku sangat hancur. Aku peringkat 27 dari 30 siswa, sedangkan yang peringkat satu adalah... Fahri.
Aku lemas hingga tidak mampu berdiri dan terduduk di lantai. Saat ini aku merasa kekacauanku ini makin menjadi. Bagaikan sebuah vas bunga yang jatuh dan sudah hancur lebur.
"Aku iri kepada semua orang. Kenapa ini semua terjadi kepadaku? Apa ini adalah hukuman terhadapku? Aku ingin seperti dulu lagi." Ucapku dengan volume yang keras sambil menangis.
Tidak lama kemudian, kudengar petir yang menyambar dan hujan turun dengan sangat deras.
"Kamu yang membuat keadaan menjadi seperti ini." Ucap pria misterius yang memakai jaket bertudung itu.
"Siapa kamu?" Ucapku ketakutan.
"Kamu tidak perlu tahu siapa saya, tetapi saya bisa memberimu sebuah kesempatan untuk kembali ke masa lalu." Ucapnya
"Benarkah? Apa itu mungkin?" Tanyaku
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini, hahahahahaha." Ucapnya sambil tertawa.
"Bercandamu tidak lucu." Ucapku
"Saya serius, kamu bisa kembali ke masa lalu dan mengubah hidup kamu. Semua berawal semenjak kamu lupa bersyukur. Apa begitu?"
"Bagaimana kamu tahu?"
"Hahaha, semua terlihat jelas di catatanmu. Jadi apa kamu bersedia untuk kembali ke masa lalu?"
"Apakah itu bisa membuatku menjadi lebih baik?"
"Kamu harus dapat mengendalikan keadaan, jangan biarkan keadaan yang mengendalikanmu." Ucap pria itu serius
"Baik, saya setuju." Jawabku yakin
Setelah itu aku mendengar petir menyambar, angin ribut, dan hujan yang tak biasa. Aku melihat tetes air hujan yang tadinya jatuh kebawah, berbalik arah menjadi naik ke atas. Seketika aku merasa pusing dan kehilangan kesadaran.
------
Suara alarm terdengar sangat berisik membangunkanku. Saat ini pukul lima pagi, aku masih merasa pusing.
"A-ku... sedang di kamar? Bagaimana bisa?" Ucapku terheran-heran.
Aku melirik ke arah kalender yang tergantung di kamarku. 2018. Saat ini tahun 2018. Aku berhasil kembali ke masa lalu. Aku menampar pipiku sendiri dan terasa sakit. Ini nyata!
"Fira, ayo bangun! Bersiaplah, setelah itu kita sarapan bersama." Ucap Ibuku yang membangunkanku.
Ponselku bergetar dan aku melihat ada 50 notifikasi dari sebuah grup whatsapp.
"Bangun gaes."
"Sahur!"
"Iya ini aku udah bangun."
"Kayanya aku tahu siapa yang belum bangun."
"FIRA!"
"FIRA KEBOOO."
"FIRA BANGUN."
"FIR! FIREEEEEEE."
"BANGUN FREE FIRA!"
Aku tertawa saat membaca percakapan teman-temanku di grup whatsapp dan segera membalasnya.
"Iya iya aku udah bangun, kalian mandi gih. Bisa-bisanya malah main hp!"
Setelah membalas pesan teman-temanku, aku segera beranjak dari tempat tidurku, merapikannya, bersiap untuk berangkat sekolah, dan sarapan.
Setelah sarapan, tidak lupa aku berpamitan untuk berangkat sekolah kepada Ibuku.
"Hati-hati di jalan dan belajar yang benar ya!" Ucap Ibuku sambil tersenyum.
"Baik bu, aku berangkat." Jawabku lalu mencium tangan Ibu.
Setelah itu, aku berangkat sekolah dengan tersenyum serta menghirup segarnya udara yang masih dipenuhi embun pagi.
"Fira! Ayo naik." Ucapnya sambil menunjuk ke jok belakang sepeda.
Suara itu, suara yang terakhir kali membuat pikiranku kacau.
"Fira! Naik buruan ntar terlambat!" Ucapnya agak keras.
"I-ya iya nih aku naik."
"Fir, udah lihat nilai kamu belum? Selamat Fir, kamu akhirnya bisa membuktikannya. Kamu peringkat satu!" Ucapnya antusias sambil mengayuh sepedanya.
"Beneran? Kenapa aku ketinggalan? Jadi ga sabar pengen lihat!"
"Siap, pegangan ya. Aku ngebut!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Hei, pelan-pelan aja." Ucapku ikut tersenyum sambil memukulnya.
-------
Aku senang dan bersyukur bisa kembali di tahun ini, aku sangat senang bisa mendengar Ibuku membangunkanku dan membuatkanku sarapan. Aku juga senang mempunyai teman-teman yang masih sayang terhadapku, Lala, Tasya, Dian, Ayu, dan Fahri.
Berkat dukungan mereka, aku akan semangat menjalani hariku dan tidak akan seperti saat itu lagi. Mulai hari ini, aku akan bersyukur. Aku harap aku bisa mengubah masa sulit itu menjadi lebih baik mulai sekarang.
Terimakasih semuanya.
-------
Bagian 1 ㅡ selesai.
-------
Amanat di cerpen ini adalah syukuri dengan yang kamu miliki hari ini, karena dengan mensyukuri kita akan bisa menghargai setiap detik waktu yang kita miliki dan tidak akan menyesal di kemudian hari.
-------
Halo teman - teman, ini pertama kalinya aku buat cerpen di blog. Bagaimana menurut kalian? Pasti masih banyak kejanggalan di cerita. Kira-kira kenapa Fira bisa seperti itu? Apa kesalahan Fira? Kalau sempat dan kalau ada yang suka sama ceritanya akan dilanjutkan ke bagian 2 😊
ㅡ n
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dan berpendapat !